Sabtu, 22 Desember 2012

IBU

Assalamualaikum wr. wb.
Heiy guys, kalian tahu tanggal berapa ini? Hari ini adalah tanggal 22 Desember 2012, dan kalian tahu itu artinya apa? Ini adalah hari Sabtu!!! Hahaha bukan bukan bukan, hari ini adalah Hari Ibu. Entah kebudayaan mana ini, yang jelas saya hanya ikut berpartisipasi dan memeriahkannya saja. Dalam rangka memperingati hari ibu ini, saya akan menceritakan sedikit mengenai Ibu saya.







Sri Widodo Rahayu

21 Januari 1973 


Ibu adalah wanita yang paling menyebalkan, paling menjengkelkan, paling galak, paling pelit, paling sok tau, dan paling sok berkuasa di rumah. Pemikiran itu aku dapatkan ketika SD, bahkan SMP, semakin beranjak dewasa, aku semakin malu pada diriku sendiri, dan tersenyum ketika mengingat masa-masa itu.
Ibu adalah wanita terhebat yang pernah aku temui di dunia, bahkan catwomen pun tidak dapat menandinginya. Ibu melahirkan ku pada tanggal 10 April 1992, aku tahu semua itu tidak mudah. Dari awal ibu menikah, ibu hidup miskin bersama bapak. Meskipun bapak bekerja saat itu, tapi kami tetap hidup dalam kemiskinan. Ibu dan Bapak tinggal di rumah kontrakan 1x9 meter di daerah Senen, Jakarta. Meskipun Ibu dan Bapak miskin, mereka tetap membelikan susu untuk diminum oleh ibu ketika sedang hamil diriku. Ketika waktunya lahir, aku yang masih dalam perut ibu tidak memberi respon tanda tanda kelahiran. Ibu sempat cemas dan sedih, dan akhirnya Ibu harus melahirkan dengan sesar. Jujur ketika melihat video youtube, sesar itu lebih mengerikan bila dibandingkan dengan film Rumah Dara. Entah apa yang dirasakan ibu, yang aku tahu itu sangat menyakitkan, tidak pernah terbayangkan sedikitpun olehku bila perutku harus dirobek menggunakan pisau dan gunting. Alhamdulillah sesar berjalan dengan baik, dan ketika semua Ibu bahagia atas kelahiran anaknya, beda dengan ibuku, ibu bersedih karena beberapa hari setelah aku lahir, dokter bilang bahwa aku terkena hepatitis B. Ya, itu adalah sakit kuning. Sepengetahuanku itu penyakit yang mahal obatnya bahkan tidak dapat disembuhkan. Entah stadium berapa, yang jelas tubuhku menguning hingga kuku dan mataku pun menguning. Ya Allah, keluarga kami kekurangan namun kau memberi cobaan yang begitu berat kepada kedua orang tuaku. Ibu yang sudah sehat, mulai bekerja kembali sebagai penjual kacang goreng yang dibungkus dalam kemasan plastik kecil dan dititipkan di warung-warung. Bapak pun kembali bekerja dan berusaha mencari uang tambahan. Saat dirumah sakit, aku dirawat di dalam inkubator berlampu 9. Panaaaaaasnya! Hal tersebut dilakukan agar kulitku menghitam dan tidak berwarna kuning. Dan aku diberi suntikan entah berupa obat atau vitamin sebanyak 2x suntikan per hari, dan itu tidak murah, 2x suntikan sekitar 100ribu perhari di tahun 1990-an. Beruntung kami mendapat sedikit keringanan berkat Tante dari bapak yang bekerja di Rumah Sakit tersebut. Alhamdulillah aku sudah kembali normal seperti anak biasanya. Ibu selalu memberikan yang terbaik ketika aku balita. Diajaknya aku jalan jalan setiap pagi dan sore di sela-sela kesibukannya berjualan kacang goreng. Begitu seterusnya hingga kami pindah ke rumah kami yang baru di Bekasi, meskipun hanya membawa tikar dan satu buah radio kecil tempo dulu.

Bukan hanya ketika aku lahir, namun ketika aku duduk di bangku sekolah pun Ibu tetap direpotkan olehku. Ibu harus mengantar dan menjemputku ketika sekolah dulu meskipun hanya dengan sepeda roda dua, padahal Ibu memiliki warung kecil di depan rumah dan ibu pun harus melakukan kegiatan rumah tangga seperti mencuci, menyetrika dll. Ibu tidak butuh sekretaris untuk mengatur jadwalnya yang padat. Aku sering diejek karena kulitku yang hitam dan tubuhku yang kecil ketika di sekolah, ya itu semua dampak dari penyakit sewaktu kecil dulu. Namun, Ibu selalu memberikanku yang terbaik dan kata-kata motivasi yang paling super daripada kata-kata motivasi dari Mario Teguh. Dibalik kekurangan fisikku, Allah memberikan kelebihan berupa otak yang cerdas. Itu semua berkat Ibu yang selalu bawel, galak, tukang perintah, yang aku sebutkan tadi. Ibu tidak mengizinkanku bermain diluar, ibu hanya sering menyuruhku untuk belajar, belajar, dan belajar. Tidak heran prestasiku dari TK hingga sekarang ini tidak mengecewakan. Ibu hanyalah lulusan SD dari sebuah desa kecil di Solo Jawa Tengah. Tapi anehnya Ibu memiliki anak yang selalu mendapatkan ranking 1 selama di sekolah dulu, jadi tidak aneh bila ibuku terkenal oleh semua ibu-ibu dan guru-guru di sekolahku dulu. Ibu selalu bilang, bahwa mengambil raporku dulu adalah suatu kebanggan untuk dirinya. Bahkan kini Ibu memiliki anak yang kuliah disalah satu Universitas Negeri di Surakarta. Yaa, anak hitam dan kecil itu kini kuliah di fakultas hukum UNS dan bahkan mendapatkan IP sempurna, yaitu angka 4. Siapa sangka Ibu bisa melahirkan dan mendidik anak menjadi seperti aku yang sekarang , meskipun ibu hidup dalam kemiskinan dan dalam kebodohan dulu? Bila mengingat hal tersebut, aku tidak berani untuk sombong dengan apa yang aku punya sekarang. Ibu tidak punya apa apa, tapi Ibu bisa melakukan apapun.

Ibu selalu saja ingin bekerja untuk membantu bapak untuk memenuhi kebutuhan di rumah. Ibu adalah tokoh utama di rumah, tidak satupun stuntman yang dapat menggantikan Ibu. Ibu ingin membeli emas untuk tabungannya, namun ibu lebih memilih membelikanku laptop baru untuk keperluan kuliah. Ibu ingin sekali memiliki motor matic baru seperti teman temannya, namun ibu lebih memilih membelikanku motor baru untuk menggantikan yang lama agar aku tidak diejek dan mudah mendapatkan pacar katanya. Ibu selalu ingin membeli mesin jahit baru, namun ibu lebih mendahulukan diriku yang ingin memiliki gadget baru. Pernah suatu ketika kami benar-benar membutuhkan uang, Ibu bekerja 3hari 3malam hanya untuk keluarga. Alhamdulillah keluarga kami kini berkecukupan, rumah, motor, mobil, peralatan rumah tangga kami miliki. Semua berkat kegigihan ibu.

Ibu..
Kini anakmu sudah besar, lihatlah bulu tipis diatas bibirnya.
Ingin rasanya aku mencicipi lagi kacang goreng yang ibu jual dulu.
Entah berapa harganya sekarang, yang jelas satu mobil mewah tidak dapat menggantikan kacang goreng .yang Ibu jual dulu.
Ingin sekali mengubah 1x9 meter dulu, menjadi 1x9 hektar.
Entah berapa harga kontrakan itu sekarang, mungkin kini sudah menjadi hotel besar di ibukota.
Ingin sekali membelikan sepeda baru untukmu sekarang.
Entah harga sepeda yang kau gunakan dulu berapa, mungkin kini sudah bercampur dengan besi besi tua.
Aku memang tidak tahu apa apa karena yang aku tahu cintamu sungguh sangat berharga.
Dan mungkin bila kau menjual cintamu, mungkin sampai matipun aku takkan dapat membelinya
Ibu..
Ingat anakmu dulu yang kecil dan hitam?
Berkatmu kini menjadi orang besar dan bersinar seperti emas.
Terima kasih Ibu
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar