Minggu, 03 Februari 2013

Persahabatan

ketika awan membentuk gumpalan gulali,
sang angin tengah ditanya oleh sinar matahari,

"apa yang telah kau lakukan selama
seribu sembilan lima hari terakhir?"

sang angin, yang tangannya membawa
serpihan daun cemara, menjawab,

"aku telah menyelusup dalam lorong kelas,
membelai pucuk Ficus Benjamina,
membawa hirup NH3,
dan berbaur dengan berbagai
suara dari banyak kepala."

sinar bertanya lagi,

"tak bosankah kau melakukan semua itu?"

sang angin tersenyum sembari membiarkan
dedaunan itu jatuh ke tanah,

"bagaimana bisa aku bosan,
bila tiap detik aku berkelana,
beribu cerita mereka menyentuh tubuhku
mencoba bergabung dan berharap
aku akan membawanya jauh
dan menjadi abadi."

"bagaimana bisa?" heran sinar.

"sebab, di balik rumus dan hapalan,
tes atau ujian,
ada ikatan yang bahkan lebih halus dari wujudku,
yaitu persahabatan"

*puisi ini gw temukan disalah satu penjelasan album dari sahabat gw si kiting, album foto tersebut dokumentasi dari perjalanannya ke semeru.

Si Jersey Tim Meriam dari Inggris

Mata ini masih membentuk garis lengkung hitam
Jiwa masih belum juga kembali sejak semalam
Namun kaki ini entah sudah melangkah kemana
Datang baja beroda empat dengan sesosok bidadari di dalamnya
Alamak! Dia adalah kakak dari sahabatku
Perempuan yang cuek, riang, seksi dan semaunya sendiri
Sosok itu yang aku kagumkan dari wanita berambut cokelat itu
Bukan cinta, hanya aku suka dengan semua yang ada pada dirinya
Dua tahun sudah aku menunggu kesempatan ini
Tujuh tahun sejak pertama kali aku melihatnya
Dengan warna berbeda, antara biru dan abu-abu
Dirumah seluas peternakan itu aku merasa hanya berdua dengannya
Jangankan orang lain, bahkan serangga kecilpu tidak kuanggap ada
Hanya dia dan dia, tidak ada yang lain
Mataku hanya melihat matanya
Dengan jersey tim meriam dari inggris
Dia terlihat sedikit lebih seksi dan manis
Dengan gayanya yang seolah dunia miliknya
Dasar sialan, sahabatku sendiri justru menganggu
Seolah dia tidak mau kakaknya di telanjangi dengan mataku
Seketika dia datang menghampiri karena dipanggil oleh sahabatku
Bangsat, dia kearahku! Keringat membajiri sel kulitku
Entah dia berkata apa, hanya melihat mulutnya yang tebal
Aku ingin lari dan mencari gedung tertinggi di kota ini
Loncat dan mati dan segera berenkarnasi dan menjadi sosok yang lebih tua dari sekarang
Bodoh, itu tidak mungkin terjadi
Lemas! Dasar pecundang, mengagumi dan takut akan kecantikan!
Seandainya dia mengenakan hijab yang membungkus rambutnya yang indah
Mungkin aku tidak akan pernah bisa menulis ini
Mati