ketika awan membentuk gumpalan gulali,
sang angin tengah ditanya oleh sinar matahari,
"apa yang telah kau lakukan selama
seribu sembilan lima hari terakhir?"
sang angin, yang tangannya membawa
serpihan daun cemara, menjawab,
"aku telah menyelusup dalam lorong kelas,
membelai pucuk Ficus Benjamina,
membawa hirup NH3,
dan berbaur dengan berbagai
suara dari banyak kepala."
sinar bertanya lagi,
"tak bosankah kau melakukan semua itu?"
sang angin tersenyum sembari membiarkan
dedaunan itu jatuh ke tanah,
"bagaimana bisa aku bosan,
bila tiap detik aku berkelana,
beribu cerita mereka menyentuh tubuhku
mencoba bergabung dan berharap
aku akan membawanya jauh
dan menjadi abadi."
"bagaimana bisa?" heran sinar.
"sebab, di balik rumus dan hapalan,
tes atau ujian,
ada ikatan yang bahkan lebih halus dari wujudku,
yaitu persahabatan"
*puisi ini gw temukan disalah satu penjelasan album dari sahabat gw si kiting, album foto tersebut dokumentasi dari perjalanannya ke semeru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar