Senin, 16 September 2013

Bibir Indrayanti

Aku ingin tertawa, ketika aku tahu bahwa saat ini aku sedang duduk sendiri di atas pasir putih indrayanti. Seperti laki laki lemah yang putus asa. Yaa..memang aku sedang putus asa.
Aku ingin melihat matahari yang biasanya memberikan kehangatan untuk tubuh ini. Namun matahari itu tak lagi datang untukku. Aku terus mengejarnya, tapi apa? Hanya keputus asa an ini yang ku dapat. Matahari itu tidak ada disini..di bibir indrayanti.
Kutunggu malam, berharap aku akan bertemu bulan dan menceritakan semua kesedihan ini. Tragis, bulan pun enggan datang untukku. Hanya kecewa yang tersisa.
Saat ku nikmati kesedihan ini, langit sudah tidak lagi berwarna biru. Malam datang tanpa bulan yang kucari. Kucari dan kucari kekurangan yang ada dalam diri. Hingga menghakimi dan mempercundangi diri sendiri.
Aku merasakan angin berhembus tidak biasanya. Gemuruh suara ombak yang terus berlari. Mencoba menggapai diriku yang duduk tidak jauh dari mereka. Bodoh kubilang. Ombak itu melakukan hal yang mustahil. Sial, baru selesai mulut ini berbicara, ombak itu berhasil berhenti tepat di depanku. Hingga akhirnya berhasil menyentuh ujung ujung kulitku.
Malu. Laki laki yang putus asa pada harapannya lebih bodoh daripada ombak yang kusebut bodoh tadi. Mereka terus berusaha meskipun orang lain mengatakan mereka bodoh karena melakukan sesuatu yang tidak mungkin. Mereka sanggup, mereka bisa dengan bermodalkan usaha perjuangan tanpa akhir. Dan waktu yang membantunya. Terimakasih telah memberikanku suatu ilmu kehidupan.
Disini, dipantai indrayanti. Aku tidak lagi sendiri. Milyaran pasir putih dan milyaran kubik air terus menemaniku hingga saat ini. Langit hitam mulai menunjukkan keindahannya. Jutaan bintang tersenyum menatapku. Dan aku sadar, aku tidak akan mundur sekarang. Aku akan berusaha menjaga hati ini. Dan menemukan bulan dan matahari bersama dya..yang kucintai.

Indrayanti, 6.34 p.m. Minggu 7 july 2013



Tidak ada komentar:

Posting Komentar