Aku ingin tertawa, ketika aku
tahu bahwa saat ini aku sedang duduk sendiri di atas pasir putih indrayanti.
Seperti laki laki lemah yang putus asa. Yaa..memang aku sedang putus asa.
Aku ingin melihat matahari
yang biasanya memberikan kehangatan untuk tubuh ini. Namun matahari itu tak
lagi datang untukku. Aku terus mengejarnya, tapi apa? Hanya keputus asa an ini
yang ku dapat. Matahari itu tidak ada disini..di bibir indrayanti.
Kutunggu malam, berharap aku
akan bertemu bulan dan menceritakan semua kesedihan ini. Tragis, bulan pun
enggan datang untukku. Hanya kecewa yang tersisa.
Saat ku nikmati kesedihan
ini, langit sudah tidak lagi berwarna biru. Malam datang tanpa bulan yang kucari.
Kucari dan kucari kekurangan yang ada dalam diri. Hingga menghakimi dan
mempercundangi diri sendiri.
Aku merasakan angin berhembus
tidak biasanya. Gemuruh suara ombak yang terus berlari. Mencoba menggapai
diriku yang duduk tidak jauh dari mereka. Bodoh kubilang. Ombak itu melakukan
hal yang mustahil. Sial, baru selesai mulut ini berbicara, ombak itu berhasil
berhenti tepat di depanku. Hingga akhirnya berhasil menyentuh ujung ujung
kulitku.
Malu. Laki laki yang putus
asa pada harapannya lebih bodoh daripada ombak yang kusebut bodoh tadi. Mereka
terus berusaha meskipun orang lain mengatakan mereka bodoh karena melakukan
sesuatu yang tidak mungkin. Mereka sanggup, mereka bisa dengan bermodalkan
usaha perjuangan tanpa akhir. Dan waktu yang membantunya. Terimakasih telah
memberikanku suatu ilmu kehidupan.
Disini, dipantai indrayanti.
Aku tidak lagi sendiri. Milyaran pasir putih dan milyaran kubik air terus
menemaniku hingga saat ini. Langit hitam mulai menunjukkan keindahannya. Jutaan
bintang tersenyum menatapku. Dan aku sadar, aku tidak akan mundur sekarang. Aku
akan berusaha menjaga hati ini. Dan menemukan bulan dan matahari bersama
dya..yang kucintai.
Indrayanti, 6.34 p.m. Minggu
7 july 2013


Tidak ada komentar:
Posting Komentar