Pertama kalinya aku
menghabiskan malamku untuk hal yang aku cintai
Pantai...
Poktunggal nama pantai cantik
ini. Meskipun kami datang sangat telat, namun pasir putih menyambut dengan
lembut. Bintang pun datang menyambut kami, meskipun bulan tak lagi bersamanya.
Semua itu cukup untuk mengindahkan pesta malam ini. Terdapat gazibu dengan
penerangan yang sangat redup, cahaya kuning telur yang keluar membuatnya gazibu
yang beratap jerami itu terlihat sangat cantik.
Poktunggal..luar biasa
menyambut kami. Dua gadis kecil tersenyum manis menatap kami. Bertanya nama
dengan bermodalkan tawa khas anak pantai. Baru sebentar kami duduk, gadis
pantai yang masih berumur 8 tahun sudah akrab dengan kami. Memberi kehangatan
untuk malam kami. Teriak dan tawa nya menyatu dengan suara ombak yang terbawa
angin.
Beberapa pengunjung datang
dengan tas besar di punggungnya. Membawa tenda besar yang ternyata tidak ada
alasnya. Api unggun menjadi satu satunya sumber pencahayaan kami. Dan petikan
gitar mengiringi malam kami yang terus berjalan.
Poktunggal..hamparan pasir
putih menjadi tempat pilihan kami untuk tidur. Beralaskan bumi beratapkan
langit. Menatap tepi ujung bumi dimana langit dan bumi bersatu, lagi lagi
membuat saya merasa kecil. Allah Maha Besar menciptakan keindahan ini, untuk
kami para hambanya.
Poktunggal..beruntung. Sang
bulan datang dalam pesta malam ini. Bukan bulan penuh, bulan sabit cukup tuk
menerangi seluruh pantai ini. Bintang favoritku pun ikut hadir, datang untuk
berpesta. Entah bagaimana bisa disebut pesta, faktanya dari awal tadi kami
hanya duduk sembari melihat air dan pasir. Sementara kopi terus berkurang,
seiring banyaknya cerita yang tercipta. Membuat malam ini semakin manis dengan
kenangannya.
Poktunggal aku cinta kamu..dan terima kasih Allah atas semua ciptaanMu

Tidak ada komentar:
Posting Komentar