Sabtu, 12 Oktober 2013

Poktunggal pertengahan September



Pertama kalinya aku menghabiskan malamku untuk hal yang aku cintai
Pantai...
Poktunggal nama pantai cantik ini. Meskipun kami datang sangat telat, namun pasir putih menyambut dengan lembut. Bintang pun datang menyambut kami, meskipun bulan tak lagi bersamanya. Semua itu cukup untuk mengindahkan pesta malam ini. Terdapat gazibu dengan penerangan yang sangat redup, cahaya kuning telur yang keluar membuatnya gazibu yang beratap jerami itu terlihat sangat cantik.
Poktunggal..luar biasa menyambut kami. Dua gadis kecil tersenyum manis menatap kami. Bertanya nama dengan bermodalkan tawa khas anak pantai. Baru sebentar kami duduk, gadis pantai yang masih berumur 8 tahun sudah akrab dengan kami. Memberi kehangatan untuk malam kami. Teriak dan tawa nya menyatu dengan suara ombak yang terbawa angin.
Beberapa pengunjung datang dengan tas besar di punggungnya. Membawa tenda besar yang ternyata tidak ada alasnya. Api unggun menjadi satu satunya sumber pencahayaan kami. Dan petikan gitar mengiringi malam kami yang terus berjalan.
Poktunggal..hamparan pasir putih menjadi tempat pilihan kami untuk tidur. Beralaskan bumi beratapkan langit. Menatap tepi ujung bumi dimana langit dan bumi bersatu, lagi lagi membuat saya merasa kecil. Allah Maha Besar menciptakan keindahan ini, untuk kami para hambanya.
Poktunggal..beruntung. Sang bulan datang dalam pesta malam ini. Bukan bulan penuh, bulan sabit cukup tuk menerangi seluruh pantai ini. Bintang favoritku pun ikut hadir, datang untuk berpesta. Entah bagaimana bisa disebut pesta, faktanya dari awal tadi kami hanya duduk sembari melihat air dan pasir. Sementara kopi terus berkurang, seiring banyaknya cerita yang tercipta. Membuat malam ini semakin manis dengan kenangannya.
Poktunggal aku cinta kamu..dan terima kasih Allah atas semua ciptaanMu

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar