Pernah kalian merasakan seperti kotoran? Entah kotoran sapi
atau kotoran kucing. Sekali lagi saya membuat diri saya sendiri menjadi tidak
berharga. Perbuatan-perbuatan bodoh yang saya lakukan mengakibatkan kegelisahan
dalam diri saya. Mungkin kembali lagi saya lupa bersyukur atas nikmat yang
telah Allah berikan kepada saya. Namun ini memang cukup berat, atau mungkin
saya yang berlebihan sehingga membuatnya menjadi lebih berat. Mungkin banyak
yang bilang bahwa lebih baik saya melakukan hal
lain yang lebih penting daripada seperti ini. Mengeluh..siapa juga yang
ingin melakukan hal ini, selain pecundang. Dalam kenyataannya banyak manusia
termasuk saya di dalamnya yang sering mengeluh.
Entah apa yang membuat ini menjadi sulit untuk saya. Padahal banyak hal-hal sulit diluar sana yang telah saya buat menjadi mudah, meskipun hal sulit tersebut bukan masalahku melainkan masalah orang lain. Bak pahlawan bagi orang lain, namun tidak bisa menjadi pahlawan untuk diri sendiri..menyedihkan. Itulah mengapa saya sering mengatakan bahwa
“dukun tidak dapat memperkaya dirinya sendiri, bahkan dokter pun juga bisa sakit dan tidak bisa menyembuhkan penyakitnya, atau seperti tukang gali kubur yang tidak biisa menggali kuburannya sendiri ketika dia sudah mati".
Saya masih beruntung memiliki banyak sahabat, dan keluarga. Apa hal tersebut membantu? Kenyataannya tidak bisa membuat hati ini lebih tenang..senyum palsu yang hanya saya berikan kepada mereka. Menyembunyikan semua masalah ini seolah saya adalah manusia paling bahagia di depan mereka. Berharap mereka pun juga bisa berbahagia atas masalahnya. Logikanya, mana ada dokter yang sedang sakit, namun secara bersamaan menyembuhkan orang sakit lainnya. Sebenarnya apa masalahnya pun saya kurang paham..aneh memang.
Entah apa yang membuat ini menjadi sulit untuk saya. Padahal banyak hal-hal sulit diluar sana yang telah saya buat menjadi mudah, meskipun hal sulit tersebut bukan masalahku melainkan masalah orang lain. Bak pahlawan bagi orang lain, namun tidak bisa menjadi pahlawan untuk diri sendiri..menyedihkan. Itulah mengapa saya sering mengatakan bahwa
“dukun tidak dapat memperkaya dirinya sendiri, bahkan dokter pun juga bisa sakit dan tidak bisa menyembuhkan penyakitnya, atau seperti tukang gali kubur yang tidak biisa menggali kuburannya sendiri ketika dia sudah mati".
Saya masih beruntung memiliki banyak sahabat, dan keluarga. Apa hal tersebut membantu? Kenyataannya tidak bisa membuat hati ini lebih tenang..senyum palsu yang hanya saya berikan kepada mereka. Menyembunyikan semua masalah ini seolah saya adalah manusia paling bahagia di depan mereka. Berharap mereka pun juga bisa berbahagia atas masalahnya. Logikanya, mana ada dokter yang sedang sakit, namun secara bersamaan menyembuhkan orang sakit lainnya. Sebenarnya apa masalahnya pun saya kurang paham..aneh memang.
Mungkin saya hanya sedang berada di ujung jalan dan tidak tahu harus kemana dan bagaimana. Saya mempunyai tujuan namun seperti kata favorit saya di film 21 again yaitu "I Lost My Way". Pernah kalian merasa kehilangan jati diri kalian sendiri? Semacam perubahan dalam diri sendiri sehingga kehilangan jati diri yang dulu telah ada. Proses pendewasaan, menuju dewasa namun belum dewasa..itu yang dikatakan sahabat saya. Perubahan memang baik tetapi untuk apa jika tidak bisa menjadi diri sendiri? Klamufalse. Seolah saya mengenakan topeng dan membohongi diri sendiri. Mereka bilang saya pahlawan, namun saya merasa tidak lebih dari seorang laki-laki pengecut yang kalah oleh kenyataan.
Mungkin harus saya sudahi tulisan ini sebelum saya
menyalahkan takdir yang diberikanNya.
Disini saya diberi rasa kecewa ketika harapan tidak sesuai dengan kenyataan.
Saya terus mencoba dan berusaha, namun semuanya diluar batas kemampuan dan
tidak sesuai yang diharapkan. Saya kalah pada dunia. Mungkin jika ada malaikat
disini saya akan banyak bertanya tentang takdir saya, karena semua yang saya
lakukan selalu saja salah. Sebenarnya saya sadar, bahwa saya terlalu banyak
mengeluh. Banyak bertanya dan mencari tahu soal takdir. Banyak mengada-ada dan
berharap kepada takdir. Dan ketika semua tidak sesuai dengan harapan dan
perjuangan, BLAM!!! Semua hancur!
Allah itu Maha Baik..memang saya tidak mendapatkan jawaban
tentang bagaimana dan kemana jalan saya. Namun Allah mengirimkan hujan untuk
saya dan saya belajar banyak dari hujan. Apa yang saya pelajari dari hujan?
Hujan..kemana mereka akan pergi? Kapan hujan akan turun? Tak ada jawaban pasti atas pertanyaan itu, yang jelas mungkin kita sama-sama tahu bahwa hujan pasti akan turun bila sudah waktunya dan hujan akan selalu pergi kemanapun alam membawanya. Apak hujan pernah bertanya tentang takdirnya? Kapan dia akan turun? Kemana dia akan jatuh?
Saya belajar sabar dari hujan, dimana hujan selalu sabar menunggu kapan mereka harus turun. Saya juga belajar tentang tawakal, ketika hujan menyerahkan semuanya kepada alam kemana mereka harus pergi. Dan saya juga tahu rasa ikhlas, karena hujan tidak pernah mengeluh atas semua yang mereka alami. Saya hanya harus seperti hujan yang selalu sabar, tawakal, dan ikhlas. Semua sudah ada jalannya bila memang sudah waktunya. Saya hanya harus menyiapkan semua kebutuhan saya untuk menjalani petualangan hidup seperti hujan yang selalu bersabar di langit mengumpulkan semua gumpalan air dalam awan untuk turun menjadi hujan dan melanjutkan petualangannya melewati tanah, sungai, laut dan kembali lagi ke langit.
Hujan..kemana mereka akan pergi? Kapan hujan akan turun? Tak ada jawaban pasti atas pertanyaan itu, yang jelas mungkin kita sama-sama tahu bahwa hujan pasti akan turun bila sudah waktunya dan hujan akan selalu pergi kemanapun alam membawanya. Apak hujan pernah bertanya tentang takdirnya? Kapan dia akan turun? Kemana dia akan jatuh?
Saya belajar sabar dari hujan, dimana hujan selalu sabar menunggu kapan mereka harus turun. Saya juga belajar tentang tawakal, ketika hujan menyerahkan semuanya kepada alam kemana mereka harus pergi. Dan saya juga tahu rasa ikhlas, karena hujan tidak pernah mengeluh atas semua yang mereka alami. Saya hanya harus seperti hujan yang selalu sabar, tawakal, dan ikhlas. Semua sudah ada jalannya bila memang sudah waktunya. Saya hanya harus menyiapkan semua kebutuhan saya untuk menjalani petualangan hidup seperti hujan yang selalu bersabar di langit mengumpulkan semua gumpalan air dalam awan untuk turun menjadi hujan dan melanjutkan petualangannya melewati tanah, sungai, laut dan kembali lagi ke langit.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar