Assalamualaikum Wr. Wb..
24 Januari 2014, Jumat pagi ketika saya sudah berada di
kantor ini. Selama sebulan dari tanggal 7 Januari 2014 saya memang sedang
menjalani magang di Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Yogyakarta untuk
memenuhi kewajiban saya sebagai mahasiswa hukum UNS. Dengan pakaian polo kerah
yang bukan sama sekali style-ku dan
training hitam bertuliskan karate di kanan dan kirinya yang anehnya saya belum
pernah sama sekali belajar bela diri karate..saya siap untuk senam.
Lantunan musik dengan irama yang membuat badan kami lebih
semangat sudah terdengar di gendang telinga dan merasuki tiap pori-pori kulit
kami. Para pegawai yang lain sudah memenuhi tempat biasa yang digunakan oleh
kami untuk senam, sementara beberapa teman magang saya masih belum datang, ya
memang mereka lebih sering terlambat seperti hari biasanya. Para pegawai serta
mahasiswa magang sudah membentuk barisan-barisan layaknya tentara nasional. Disini
memang rutin diadakan senam pagi bahkan masuk ke dalam SKP (Sasaran Kerja
Pegawai), sehingga instruktur senam selalu ada setiap jumat pagi untuk memimpin
barisan senam. Instruktur senam itu sendiri selalu berganti tiap jumatnya,
mungkin dengan alasan agar tidak cepat bosan. Jadi gerakan senamnya pun
berubah-ubah dan tidak bisa dihafal karena gerakan senamnya mengikuti
instruktur, sehingga tingkat kesulitan gerakan tergantung dengan tingkat
kreatifitas instruktur senam. Saya pun menatap kedepan, menanti seperti apa
instruktur senam jumat ini dan bagaimana gerakan senam hari ini.
Matahari masih tertutup awan abu gelap, namun tetap
memberikan kehangatan melalui cahaya yang menembus melalui celahnya. Dan hari
ini sang instruktur sudah berdiri siap dengan musiknya di depan barisan kami.
Senyum yang lebar dengan barisan gigi yang sedikit menonjol keluar seakan
merangkul seluruh barisan senam. Beberapa menit-menit pertama masih berjalan
normal, diawali dengan gerakan-gerakan pembuka senam yang biasa disebut
pemanasan. Menit selanjutnya, saat tempo musik semakin cepat..keanehan mulai
terjadi *musik horor.
Gerakan yang mulanya masih dapat dikatakan senam yang “wajar”
mulai menjadi senam yang tidak “wajar”. Muncul gerakan-gerakan yang tidak lazim
dan menurut saya sangat aneh. Saat saya sadar senam ini adalah senam lansia.
Astaga! Mendadak saya merasa 40tahun lebih tua. Saat saya mulai ragu untuk mengikuti
instruktur gila yang selalu tersenyum dan mengeluarkan bunyi dari mulutnya di
per setiap gerakannya itu, saya mencoba melihat sekitar. Alhasil, tidak hanya
saya yang merasa aneh, namun hampir semua orang yang senam merasa aneh, hal
tersebut dapat dilihat dari mukanya dengan satu alis yang terangkat. Semakin
banyak gerakan aneh, semakin banyak juga bunyi bunyian yang dikeluarkan dari
mulutnya, membuat saya berkesimpulan, INSTRUKTUR GILA!
Seharusnya dia tahu tempat, dimana dia memberikan senam. Dan
seharusnya dia tahu dan melihat siapa peserta senamnya. HARUSNYA! Atau mungkin
instruktur tersebut tidak memiliki gerakan lain? Bahkan musik pengiringnya itu
sendiri pun aneh. Entah darimana dia berasal, yang jelas saya merasa kasihan
ketika semua mata aneh peserta senam tertuju padanya.
Disatu sisi saya bangga kepadanya, karena dari 3 instruktur
senam hanya dialah yang berbusana “sopan”. Instruktur yang sebelumnya
mengenakan pakaian senam yang sangat ketat, dan sempat “mengeluarkan beberapa
isi tubuhnya”. Selain itu, senyumnya yang tidak pernah dia lupakan serta
semangatnya yang terus membara selama senam. Dan yang terakhir adalah
kepercayaan dirinya yang lebih daripada lainnya. Dengan gerakan-gerakan absurd
yang dia ciptakan, dia dapat meyakinkan orang lain untuk mengikutinya. Jika
saya mungkin akan malu dengan apa yang saya ciptakan seperti itu.
Maaf yang ingin sekali saya ucapkan padanya, saya sudah
berpikir negatif tentang dirinya. Padahal saya belajar sesuatu yang penting
darinya, yaitu percaya diri dengan apa yang kita ciptakan sendiri. Dia lebih
bisa menghargai, mensyukuri, dan memanfaatkan apa yang telah dianugerahkan oleh
Allah kepadanya. Dan saya? Masih belum. Inilah mengapa saya bilang “jangan
pernah menghakimi dari apa yang kalian lihat, coba dengarkan, rasakan, dan cari
tahu kebenaran”.
Saya pun jadi teringat ibu saya, yang sangat senang sekali
senam bahkan pernah dimintai oleh orang lain untuk menjadi instruktur senam.
Rindu rasanya setelah beberapa bulan ini tidak bertemu. Mungkin saya akan lebih
mengingatkan kepada ibu saya mengenai berpakaian dalam senam, agar ibu tidak
dihakimi oleh orang orang yang hanya melihatnya seperti halnya diriku terhadap
instruktur tersebut.
Keren baanget gan artikelnya ^^. Oiya gan, ane binggung nih lagi cari baju senam wanita yang murah dan berkualitas kira2 dimana yah? makasih
BalasHapusMatur nuhun atuch, artikelnya bantu banget. sekalian dach minta info yang jual baju senam crystal harga bersahabat dan kualitasnya mantap. thank kak
BalasHapus