Selasa, 28 Januari 2014

Instruktur Senam Gila Penuh Senyum

Assalamualaikum Wr. Wb..
24 Januari 2014, Jumat pagi ketika saya sudah berada di kantor ini. Selama sebulan dari tanggal 7 Januari 2014 saya memang sedang menjalani magang di Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Yogyakarta untuk memenuhi kewajiban saya sebagai mahasiswa hukum UNS. Dengan pakaian polo kerah yang bukan sama sekali style-ku dan training hitam bertuliskan karate di kanan dan kirinya yang anehnya saya belum pernah sama sekali belajar bela diri karate..saya siap untuk senam.

Lantunan musik dengan irama yang membuat badan kami lebih semangat sudah terdengar di gendang telinga dan merasuki tiap pori-pori kulit kami. Para pegawai yang lain sudah memenuhi tempat biasa yang digunakan oleh kami untuk senam, sementara beberapa teman magang saya masih belum datang, ya memang mereka lebih sering terlambat seperti hari biasanya. Para pegawai serta mahasiswa magang sudah membentuk barisan-barisan layaknya tentara nasional. Disini memang rutin diadakan senam pagi bahkan masuk ke dalam SKP (Sasaran Kerja Pegawai), sehingga instruktur senam selalu ada setiap jumat pagi untuk memimpin barisan senam. Instruktur senam itu sendiri selalu berganti tiap jumatnya, mungkin dengan alasan agar tidak cepat bosan. Jadi gerakan senamnya pun berubah-ubah dan tidak bisa dihafal karena gerakan senamnya mengikuti instruktur, sehingga tingkat kesulitan gerakan tergantung dengan tingkat kreatifitas instruktur senam. Saya pun menatap kedepan, menanti seperti apa instruktur senam jumat ini dan bagaimana gerakan senam hari ini.

Matahari masih tertutup awan abu gelap, namun tetap memberikan kehangatan melalui cahaya yang menembus melalui celahnya. Dan hari ini sang instruktur sudah berdiri siap dengan musiknya di depan barisan kami. Senyum yang lebar dengan barisan gigi yang sedikit menonjol keluar seakan merangkul seluruh barisan senam. Beberapa menit-menit pertama masih berjalan normal, diawali dengan gerakan-gerakan pembuka senam yang biasa disebut pemanasan. Menit selanjutnya, saat tempo musik semakin cepat..keanehan mulai terjadi *musik horor.

Gerakan yang mulanya masih dapat dikatakan senam yang “wajar” mulai menjadi senam yang tidak “wajar”. Muncul gerakan-gerakan yang tidak lazim dan menurut saya sangat aneh. Saat saya sadar senam ini adalah senam lansia. Astaga! Mendadak saya merasa 40tahun lebih tua. Saat saya mulai ragu untuk mengikuti instruktur gila yang selalu tersenyum dan mengeluarkan bunyi dari mulutnya di per setiap gerakannya itu, saya mencoba melihat sekitar. Alhasil, tidak hanya saya yang merasa aneh, namun hampir semua orang yang senam merasa aneh, hal tersebut dapat dilihat dari mukanya dengan satu alis yang terangkat. Semakin banyak gerakan aneh, semakin banyak juga bunyi bunyian yang dikeluarkan dari mulutnya, membuat saya berkesimpulan, INSTRUKTUR GILA!

Seharusnya dia tahu tempat, dimana dia memberikan senam. Dan seharusnya dia tahu dan melihat siapa peserta senamnya. HARUSNYA! Atau mungkin instruktur tersebut tidak memiliki gerakan lain? Bahkan musik pengiringnya itu sendiri pun aneh. Entah darimana dia berasal, yang jelas saya merasa kasihan ketika semua mata aneh peserta senam tertuju padanya.

Disatu sisi saya bangga kepadanya, karena dari 3 instruktur senam hanya dialah yang berbusana “sopan”. Instruktur yang sebelumnya mengenakan pakaian senam yang sangat ketat, dan sempat “mengeluarkan beberapa isi tubuhnya”. Selain itu, senyumnya yang tidak pernah dia lupakan serta semangatnya yang terus membara selama senam. Dan yang terakhir adalah kepercayaan dirinya yang lebih daripada lainnya. Dengan gerakan-gerakan absurd yang dia ciptakan, dia dapat meyakinkan orang lain untuk mengikutinya. Jika saya mungkin akan malu dengan apa yang saya ciptakan seperti itu.

Maaf yang ingin sekali saya ucapkan padanya, saya sudah berpikir negatif tentang dirinya. Padahal saya belajar sesuatu yang penting darinya, yaitu percaya diri dengan apa yang kita ciptakan sendiri. Dia lebih bisa menghargai, mensyukuri, dan memanfaatkan apa yang telah dianugerahkan oleh Allah kepadanya. Dan saya? Masih belum. Inilah mengapa saya bilang “jangan pernah menghakimi dari apa yang kalian lihat, coba dengarkan, rasakan, dan cari tahu kebenaran”.

Saya pun jadi teringat ibu saya, yang sangat senang sekali senam bahkan pernah dimintai oleh orang lain untuk menjadi instruktur senam. Rindu rasanya setelah beberapa bulan ini tidak bertemu. Mungkin saya akan lebih mengingatkan kepada ibu saya mengenai berpakaian dalam senam, agar ibu tidak dihakimi oleh orang orang yang hanya melihatnya seperti halnya diriku terhadap instruktur tersebut.

2 komentar:

  1. Keren baanget gan artikelnya ^^. Oiya gan, ane binggung nih lagi cari baju senam wanita yang murah dan berkualitas kira2 dimana yah? makasih

    BalasHapus
  2. Matur nuhun atuch, artikelnya bantu banget. sekalian dach minta info yang jual baju senam crystal harga bersahabat dan kualitasnya mantap. thank kak

    BalasHapus